1. Home
  2. Kumpulan Artikel Terbaru
  3. Gunung Semeru Erupsi, KSS Berikan Bantuan Dana dan APD

Gunung Semeru Erupsi, KSS Berikan Bantuan Dana dan APD

 Penulis: Elizabeth Sarah   3 years ago  Kumpulan Artikel Terbaru   min, estimated reading time.
Gunung Semeru Erupsi, KSS Berikan Bantuan Dana dan APD

Erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada 4 Desember 2021 ditetapkan menjadi bencana nasional Indonesia. Gunung berapi tertinggi ke-3 di Indonesia ini meletus secara tiba-tiba dan dianggap tanpa peringatan, sehingga menimbulkan dampak dan kerugian yang sangat besar bagi warga sekitar.

Daftar Isi
1. Penyebab Erupsi Gunung Semeru
2. Dampak Erupsi Gunung Semeru
3. Status Gunung Semeru
4. Bantuan Pemerintah untuk Penyitas Semeru
5. Bantuan KSS dan ACT untuk Penyitas Semeru

Penyebab Erupsi Gunung Semeru

Banyak pihak bertanya-tanya sebenarnya apa penyebab erupsi Gunung Semeru yang mendadak dan tanpa peringatan. Erupsi Gunung Semeru kali ini cukup parah karena disertai dengan aliran piroklasik, gumpalan debu vulkanik dan tanah longsor. Salah satu penjelasannya yaitu erupsi diperkirakan dimulai ketika kubah lava di kawah puncak runtuh karena curah hujan yang tinggi. Seorang ahli vulkanologi di Institut Teknologi Bandung mengatakan aliran puing letusan merupakan akumulasi material dari letusan masa lalu. Hujan deras mengikis material vulkanik di puncak, membuat kubah lava tidak stabil. Kubah yang runtuh memicu serangkaian aliran piroklastik yang menuruni lereng gunung berapi.

Sementara terkait tidak adanya peringatan dini, Vulkanolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman mengatakan terdapat dua jenis sistem peringatan dini, yaitu cara modern melalui instrumen yang dilakukan PVMGB seperti mengamati kegempaan, perubahan temperatur, deformasi, volume gas dan lainnya. Kemudian, cara konvensional dengan merasakan kegempaan, perilaku hewan, mata air kering dan lainnya.

Ada 3 point penting yang harus diperhatikan terkait sistem peringatan dini erupsi, yaitu pertama, informasi sampai ke masyarakat Semeru yang tidak semuanya memiliki jaringan internet dalam mendapatkan informasi. Kedua, mengedukasi masyarakat tentang arti peringatan dini dan proses dalam melakukan evakuasi. Terakhir, berkaca dari letusan Merapi 2010, yaitu merangkul kepala desa atau juru kunci yang memiliki kekuatan untuk memobilisiasi warga untuk mengungsi. Dengan memperhatikan ketiga point ini diharapkan kejadian Erupsi Gunung Semeru 4 Desember 2021 yang tanpa peringatan tak terulang kembali.

Dampak Erupsi Gunung Semeru

Berdasarkan info update dampak erupsi Gunung Semeru, setidaknya 48 orang meninggal dunia dan 9997 orang mengungsi. Lahar panas juga merusak sedikitnya 5205 rumah serta merusak jembatan Gladak Perak yang merupakan jembatan penghubung jalur selatan Kabupaten Lumajang dan Malang.

Hingga saat ini, proses pencarian korban hilang masih dilakukan oleh tim SAR. Para pengungsi dibagi di 148 titik pengungsian dengan mayoritas mengungsi di Kabupaten Lumajang dengan jumlah pengungsi 9754 jiwa.


By antarafoto

Status Gunung Semeru

Berdasarkan pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) per 14-15 Desember, status Gunung Semeru masih pada level II atau level waspada, karena gempa letusan, guguran, embusan dan tektonik lokal masih terjadi. Masih teramati letusan berwarna putih kelabu dengan tinggi hingga 400 meter di atas puncak dan juga lava pijar dengan jarak luncur 1000 sampai 2600 meter dari kawah puncak. Untuk itu masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah/puncak Gunung Semeru dan jarak 5 km arah bukaan kawah di sektor tenggara – selatan, dan mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di Gunung Semeru.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Andiani mengatakan bahwa situasi Gunung Semeru pasca Erupsi masih berpotensi membahayakan masyarakat sekitar. Potensi bahaya dari aliran lahar berkaitan dengan musim hujan. Warga juga dihimbau untuk menjauhi Sungai Besuk Koboan yang masih terdapat endapan bersuhu tinggi.

Bantuan Pemerintah untuk Penyitas Semeru

Seperti terlansir pada situs bnpb.go.id, pihak pemerintah daerah masih melakukan pemutakhiran jumlah rumah terdampak maupun tingkat kerusakan. Bangunan terdampak lainnya berupa fasilitas pendidikan 38 unit dan jembatan terputus (Gladak Perak) 1 unit. 

Hari keempat paska erupsi, Presiden Joko Widodo meninjau lokasi terdampak yang berada di Kabupaten Lumajang. Presiden Jokowi bertemu para penyintas, melihat dapur umum dan meninjau pos Kesehatan serta menyerahkan santunan kepada para ahli waris korban meninggal akibat erupsi. Pemerintah tentunya bergerak cepat untuk mengkoordinasikan bantuan pemerintah untuk penyintas Semeru, mulai dari kementerian hingga pemerintah Kabupaten semua saling berkoordinasi untuk membantu proses pemulihan korban Erupsi Gunung Semeru.

Bantuan KSS dan ACT untuk Penyitas Semeru

Selain bantuan dari pemerintah, tentu ada bantuan lain baik dari pihak swasta maupun relawan lainnya. PT. Kurnia Safety Supplies (KSS) merupakan salah satu perusahaan swasta yang turut ambil bagian dalam membantu korban bencana Erupsi Gunung Semeru. Sedikit tentang KSS, perusahaan ini adalah distributor alat safety dan merupakan salah satu market leader untuk distributor alat pelindung diri (APD) seperti helm proyek, masker, alat pelindung telinga, fall protection, sepatu safety, sarung tangan safety, AED, serta perlengkapan safety lainnya.

Setiap tahunnya, KSS rutin mengadakan CSR lewat program We Love, We Care, We Serve. Seperti tahun 2020 lalu, KSS menggalang bantuan dan bekerja sama dengan berbagai pihak baik perusahaan maupun individu, menyumbangkan 500.000 masker untuk Indonesia. Bantuan tersebut disumbangkan melalui Palang Merah Indonesia (PMI) dan diserahkan langsung oleh CEO KSS, Bapak Rudy Kurniawan kepada Bapak Jusuf Kalla selaku Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI).

Untuk tahun 2021, program CSR dari KSS adalah berkolaborasi dengan yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk membantu korban Erupsi gunung Semeru. ACT merupakan organisasi yang berkomitmen untuk menyediakan penanganan bencana menyeluruh (Total Disasster Management) yang efektif. Hal tersebut mencakup pencegahan, tanggap darurat, pemberian bantuan bencana, hingga aksi pascabencana, demi mencapai pemulihan yang seutuhnya. Yayasan yang dibentuk pada tahun 2005 ini menjadi perpanjangan tangan dari berbagai perusahaan yang ingin membantu para korban bencana, seperti bencana Erupsi Gunung Semeru saat ini. Bantuan yang diberikan kepada para korban bencana dapat tersalurkan dengan cepat berkat jaringan luas dari tim ACT. Di tingkat nasional, ACT mengembangkan jaringannya di seluruh provinsi, baik melalui MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) maupun kantor – kantor cabang. Di tingkat Global, ACT telah menjangkau 67 negara di Asia Tenggara, Asia Selatan, Semenanjung Indocina, Timur Tengah, Amerika dan juga Eropa.

Berkolaborasi dengan ACT, KSS turut memberikan bantuan untuk korban bencana erupsi Gunung Semeru. Bantuan KSS berupa dana sebesar Rp 100.000.000,- yang diimplementasikan menjadi bantuan makanan siap saji serta peralatan kesehatan bagi para penyintas Semeru. Tidak hanya itu, sebagai perusahaan distributor alat safety KSS sadar betul bahwa relawan adalah garda terdepan yang harus diperhatikan juga keselamatan dan keamanan nya. Untuk itu, KSS juga memberikan bantuan logistik berupa jas hujan, sarung tangan safety, sepatu safety (sepatu boots), kacamata safety, dan lainnya.

Produk alat safety yang disumbangkan diharapkan dapat membantu para relawan ACT saat proses evakuasi dan kegiatan lainnya di lokasi bencana. Dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang memadai dan layak pakai, tentunya keamanan dan keselamatan regu relawan akan lebih terjamin.

Melalui bantuan kemanusiaan ini, KSS berharap proses evakuasi dapat berjalan lancar dan proses recovery para penyintas pun berjalan dengan baik.